Sukarno, Fatmawati, dan Kisah Pembuangan di Kota Bengkulu

Sukarno, Fatmawati, dan Kisah Pembuangan di Kota Bengkulu

BENGKULU, LELEMUKU.COM – Di antara banyak kisah sejarah yang melekat pada Provinsi Bengkulu, terdapat satu cerita yang selalu menarik untuk dikenang. Kisah itu tentang Sukarno, sang proklamator, yang pernah dibuang ke kota ini pada 1930-an.

Pada masa penjajahan Belanda, Bengkulu menjadi tempat pembuangan sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan. Sukarno adalah salah satu di antaranya. Ia diasingkan ke Bengkulu sebagai bagian dari upaya Belanda memutus jaringan pergerakan nasional.

Di kota ini, Sukarno berkenalan dengan Fatmawati. Perkenalan itu kemudian berlanjut menjadi hubungan yang lebih serius. Fatmawati kelak menjadi istri Sukarno dan mendampinginya saat pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Fatmawati sendiri merupakan putri asli Bengkulu. Ia lahir dan besar di kota itu. Namanya kini diabadikan sebagai nama bandar udara di Kota Bengkulu, yaitu Bandar Udara Fatmawati Soekarno.

Masa pembuangan Sukarno di Bengkulu juga meninggalkan jejak lain. Ia sempat aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial di kota itu. Beberapa rumah yang pernah ia tinggali masih berdiri hingga kini, meski sebagian telah berubah fungsi.

Kisah ini menjadi bagian dari sejarah nasional yang menghubungkan Bengkulu dengan perjalanan Republik Indonesia. Bagi masyarakat Bengkulu, nama Sukarno dan Fatmawati adalah kebanggaan tersendiri. Keduanya menjadi simbol perjuangan dan cinta yang tumbuh di tanah pembuangan.

Sejarah panjang Bengkulu sendiri dimulai jauh sebelum masa penjajahan. Di wilayah ini pernah berdiri kerajaan-kerajaan berbasis etnis seperti Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, dan Kerajaan Pat Petulai. Kerajaan-kerajaan itu berada di bawah pengaruh Kesultanan Banten.

Sejak 1685, British East India Company mendirikan pusat perdagangan lada di Bengkulu. Nama Bencoolen yang melekat pada kota ini berasal dari istilah Inggris Cut Land, yang berarti tanah patah. Wilayah ini memang dikenal sebagai kawasan patahan gempa bumi yang paling aktif di dunia.

Pada 1824, melalui Perjanjian London, Bengkulu diserahkan kepada Belanda. Sejak saat itu, Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda hingga kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan, Bengkulu menjadi keresidenan dalam Provinsi Sumatera Selatan sebelum akhirnya resmi menjadi provinsi pada 18 November 1968. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya